Kesatria Wanita: Ummu Umaarah

Nusaibah binti Ka’ab bin ‘Amr Al-Maziniyyah, yang lebih dikenal sebagai Ummu ‘Umaarah, adalah sosok srikandi dari suku Khazraj, penduduk asli Madinah. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga yang memiliki kecintaan mendalam terhadap Islam. Saudaranya, Abdurrahman, dikenal sebagai ahli ibadah yang lembut hati, sementara saudaranya yang lain, Abdullah, adalah prajurit tangguh yang telah membuktikan kesetiaannya sejak Perang Badar. Semangat itulah yang tertanam kuat dalam jiwa Ummu ‘Umaarah.

​Pada tahun ketiga Hijriyah, lembah Uhud menjadi medan pembuktian imannya. Awalnya, Ummu ‘Umaarah hadir di sana sebagai relawan garis belakang. Bersama kaum wanita lainnya, ia memikul geriba air untuk menghalau dahaga para prajurit dan bersiap membalut luka-luka mereka. Baginya, membantu medis dan konsumsi adalah bentuk pengabdian yang mulia. Namun, sejarah mencatat bahwa takdir memiliki rencana yang lebih besar bagi wanita agung ini.

​Situasi di Uhud berubah menjadi kacau balau ketika pasukan pemanah muslim turun dari bukit, membuat pertahanan menjadi rapuh. Kaum musyrik Quraisy segera memanfaatkan celah itu untuk memukul balik. Di tengah hiruk-pikuk pelarian dan debu yang membubung, Ummu ‘Umaarah melihat posisi Rasulullah ﷺ terancam. Tanpa ragu, ia melempar geriba airnya dan berlari menuju pusat pertempuran. Kepada seorang prajurit yang tampak ragu di medan laga, ia berteriak dengan lantang, “Berikanlah tamengmu kepada orang yang masih berjuang!” Sejak saat itu, Ummu ‘Umaarah bukan lagi seorang perawat, melainkan perisai hidup. 

Di tengah kemelut, muncul seorang musuh beringas bernama Ibnu Qami’ah. Dengan angkuh di atas kudanya, ia merangsek maju untuk mencelakai Nabi. Ummu ‘Umaarah segera pasang badan. Ia menangkis serangan pedang Ibnu Qami’ah dengan keberanian yang tak terbayangkan. Meski terpental dan terluka, ia berhasil membalas dengan menebas kaki kuda sang musuh hingga pria itu jatuh tersungkur ke tanah.

“Wahai anak Ummu ‘Umaarah, ibumu!” seru Rasulullah ﷺ ketika melihatnya bertempur sendirian menghadapi musuh. Seruan itu segera menggerakkan anak-anaknya untuk membantu sang ibu hingga musuh tersebut berhasil dilumpuhkan.

Belasan luka kini menghiasi tubuh Ummu ‘Umaarah, namun ia tidak beranjak sedikit pun dari sisi Rasulullah. Putranya, Abdullah, mengalami luka yang cukup parah. Melihat darah mengucur deras, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Ikatlah lukamu.” Maka Ummu ‘Umaarah segera menghampiri putranya dan membalut lukanya dengan cekatan hingga darah berhenti mengalir.

Kekaguman terpancar jelas dari wajah baginda Nabi hingga beliau memujinya, “Wahai Ummu ‘Umaarah, siapa yang mampu melakukan seperti apa yang telah kau lakukan!”

​Uhud mungkin menyisakan perih, namun bagi Ummu ‘Umaarah, lembah itu adalah saksi bisu di mana ia menjelma menjadi benteng yang tak tertembus demi  Rasulullah. Belasan luka yang terukir di tubuhnya bukanlah sekadar bekas sayatan, melainkan segel kesetiaan yang ia jaga hingga napas terakhir. 

Sumber: 

Tim Penulis Qudwah. (2021). Wanita-wanita dalam debu perjuangan. Temanggung: Media Tashfiyah.


Komentar

Postingan Populer